Text
Seri Buku Tempo : Paradoks Amir Hamzah
Amir Hamzah adalah tokoh sastrawan dan pahlawan revolusi yang tergilas pada masanya. Begitulah buku berjenis non-fiksi yang terbit tahun 2017 ini, Paradoks Amir Hamzah yang dibuat dalam Seri Buku Tempo: Tokoh Seni dalam Pusaran politik sebagai tema. Berisikan sebuah pengungkapan pembunuhan pada Amir Hamzah yang disusun oleh Abdul Manan, Ayu Prima Sandi, Erwan Hermawan, Gabriel Wahyu Titiyoga, Gadi Kurniawan Makitan, Khairul Anam, Linda Novi Trianita, M. Reza Maulana, dan Mahardika Satria.
Mengusung tema politik dan tokoh seni (sastrawan) sebagai objek adalah tema yang dapat menarik berbagai kalangan. Tidak hanya akedemisi, mahasiswa, peneliti, dan peminat sastra bahkan sejarawan dapat menjadikan buku ini sebagai referensi bacaan. Dikarenakan buku ini berisikan pengungkapan pembunuhan pada Amir Hamzah. Pengungkapan pembunuhan dipaparkan ke dalam beberapa bagian.
Bagian pertama menceritakan Amir Hamzah sebagai tokoh revolusioner yang tergilas pada masanya. Kedua, Amir Hamzah yang terjepit di antara dua gelombang. Gelombang pertama Amir Hamzah sebagai tokoh pergerakan kemerdekan dan di gelombang lain Amir Hamzah sebagai keturunan Sultan dan Abdi Negara Pelayang Sultan. Hal tersebutlah yang membuat Amir terjepit. Ketiga, Amir sebenarnya telah menginginkan kemerdekaan sejak belia. Sejak ia masih bersekolah, segala organisasi yang berbau nasionalisme ia geluti sampai-sampai ia menentang secara manis orang-orang di istana. Ia mencoba cara yang lebih manis dimana pergerakannya tidak dapat terlihat oleh Sultan Langkat dan pemerintah Belanda. Amir mencoba menjunjung bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi dengan harapan hal itu membawa suatu pergerekan dalam memerdekaan Indonesia dari Pemerintah Belanda. Tetapi, biar Amir Republikan sejak belia, orang-orang yang berjuang dalam revolusi ini menganggap Amir pengkhianat hingga akhirnya Amir dibunuh secara gelap mata. Pada bagian keempat dan kelima, diceritakan masa kecil Amir Hamzah yang sudah berada dalam lingkungan kesultanan dan cerita asmara yang kandas karena perintah Sultan. Bagian akhir disebutkan Amir Hamzah sebagai pelopor gerakan bahasa baru melalui puisi-puisinya. Lalu cerita mengenai keterlibatannya dalam Majalah Poedjangga Baroe. Dan terdapat juga kolom puisi.
| A1578 | 923.2 TIM s | Perpustakaan Sekolah Cendekia BAZNAS (900) | Tersedia |
| A1635 | 923.2 TIM s C.1 | Perpustakaan Sekolah Cendekia BAZNAS (900) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain